
Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso

Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso
Artikel
HUMAS, Beddian, 12 Ramadhan 1447 H – Suasana religius selepas shalat tarawih di Pondok Pesantren Salafiyah (PPS) Al Utsmani Beddian terasa berbeda. Ada sekitar 70 calon guru tugas putri duduk khidmat mengikuti pembekalan yang menjadi agenda rutin tahunan pesantren. Kegiatan ini menjadi gerbang awal sebelum mereka diterjunkan mengabdi di berbagai lembaga pendidikan.
Dr. Ubaidillah Afief, M.Pd.I, Ketua Senat STAI Al-Utsmani Bondowoso, sebagai pemateri dengan pengalaman panjang di dunia pendidikan dan kepemimpinan. Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan materi bertema Manajemen Kelembagaan dan Kepemimpinan Berbasis Nilai-Nilai Islam.
- Manajemen sebagai Amanah
Dalam pemaparannya, Dr. Ubaidillah menegaskan bahwa manajemen dalam perspektif Islam bukan sekadar teknik mengatur, tetapi bagian dari amanah dan ibadah. Ia mengutip prinsip manajemen klasik—planning, organizing, actuating, controlling (POAC)—lalu mengaitkannya dengan nilai Qur’ani tentang perencanaan (tadbir), pengaturan (tanzhim), pelaksanaan (tanfidz), dan evaluasi (muhasabah).
“Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah. Rasulullah SAW telah memberi teladan bagaimana membangun sistem yang rapi, membagi peran sahabat, dan memastikan kontrol sosial berjalan,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia juga mengaitkan teori kepemimpinan modern seperti transformational leadership dengan konsep uswah hasanah—keteladanan yang menginspirasi perubahan. Seorang guru tugas, tegasnya, bukan hanya pengajar, tetapi agen transformasi moral dan intelektual.
- Praktik Langsung dan Diskusi Interaktif
Tidak sekadar ceramah, Dr. Ubaidillah mengajak beberapa peserta maju ke depan untuk mempraktikkan simulasi kepemimpinan dan pengambilan keputusan dalam lembaga pendidikan. Diskusi dan tanya jawab berlangsung hangat, menunjukkan antusiasme para santri putri dalam memahami tantangan dunia pengabdian.
Menurutnya, guru tugas harus memiliki tiga kekuatan utama:
1. Smart/ Kapasitas intelektual (quwwah ‘aqliyyah)
2. Integritas moral (quwwah akhlaqiyyah)
3. Ketangguhan mental (quwwah ruhiyyah)
Ketiganya menjadi fondasi dalam membangun lembaga yang profesional sekaligus berkarakter Islami.
- Spirit Perjuangan Perempuan
Di akhir sesi, Dr. Ubaidillah menyampaikan pesan yang menggugah semangat para calon guru tugas. Ia mengajak mereka meneladani keberanian dan daya juang Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan pendidikan perempuan.
“Jadilah perempuan pejuang sehebat RA Kartini. Berani, cerdas, dan bermartabat. Jangan pernah membuat malu lembaga. Jadilah guru tugas yang dipercaya kualitasnya,” pesannya yang disambut tepuk tangan peserta.
Ia menambahkan bahwa dalam Islam, perempuan memiliki posisi strategis sebagai pendidik peradaban. “Al-ummu madrasatul ula—ibu adalah sekolah pertama. Maka ketika santri putri menjadi guru, sesungguhnya mereka sedang membangun peradaban,” tegasnya.
- Pesantren dan Misi Peradaban
Pembekalan ini menjadi bukti komitmen PPS Al Utsmani dalam mencetak guru tugas yang tidak hanya siap mengajar, tetapi juga mampu memimpin, mengelola, dan menginspirasi. Di tengah tantangan pendidikan nasional, pesantren hadir sebagai benteng moral sekaligus pusat kaderisasi kepemimpinan.
Dengan perpaduan teori manajemen modern dan nilai-nilai kepemimpinan Islami, para calon guru tugas putri diharapkan mampu membawa nama baik lembaga, menjaga marwah pesantren, serta menjadi duta intelektual dan moral di tengah masyarakat.
Ramadhan menjadi momentum spiritual untuk meneguhkan niat: pengabdian bukan sekadar tugas, tetapi perjuangan. Dan dari Beddian, semangat itu kembali ditegaskan—bahwa perempuan pesantren adalah penjaga cahaya ilmu dan pelanjut estafet peradaban. (*)
©Tim IT STAI Al Utsmani 2024

