
Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso

Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso
Artikel
Sambutan
Dr.
Ubaidillah Afief, M.Pd.I.
(Ketua
Senat STAI Al Utsmani Bondowoso)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ، وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ.
Yang
terhormat, Majelis Keluarga Besar Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani:
-
Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al Utsmani, KH. Qusyairi Utsman.
-
Ketua Umum, KH. Ghazali Utsman.
-
Sekretaris Umum, Lr. H. Sholeh Qusyairi.
-
Bendahara Umum, KH. Rofiqi.
-
Kepala Bagian Tarbiyah Lr. Mohammad Baqir,
-
Kamtib I Lr. Ali Murtadho dan Kamtib II Lr. H. Faqih Subhan, serta seluruh jajaran pengurus Pondok
Pesantren Salafiyah Al Utsmani.
Yang
kami hormati, para tamu undangan:
-
Dr. Ruchman Basori, Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan
Keagamaan (Puspenma) Kementerian Agama Republik Indonesia.
-
Dr. KH. Ubaidillah, Pimpinan Kopertais Wilayah IV.
-
Para pimpinan perguruan tinggi se-Tapal Kuda.
-
Para pejabat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh undangan yang
berbahagia.
Yang
kami hormati, Ketua STAI Al Utsmani beserta seluruh jajaran pimpinan, para
dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh civitas akademika STAI Al Utsmani
Bondowoso.
Yang
kami banggakan, para wisudawan dan wisudawati, serta orang tua dan keluarga
yang hari ini hadir dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan
Pertama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke
hadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya, pada hari
yang penuh keberkahan ini kita dapat menghadiri Sidang Senat Terbuka dalam
rangka Wisuda Ke-III STAI Al Utsmani Bondowoso.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah
kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing umat manusia
dari zaman kegelapan menuju cahaya ilmu, iman, dan peradaban.
Hadirin
yang kami muliakan,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya,
selaku Ketua Senat STAI Al Utsmani Bondowoso, menyampaikan beberapa refleksi
akademik, kelembagaan, dan arah masa depan kampus yang kita cintai bersama.
PERTAMA:
WISUDA BUKANLAH AKHIR, MELAINKAN AWAL DARI PENGABDIAN
Para
wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Hari ini bukan sekadar seremoni penyerahan ijazah.
Hari ini adalah momentum pengakuan atas perjuangan, ketekunan, doa, dan
pengorbanan yang telah saudara-saudara lalui.
Di balik toga yang saudara kenakan, ada doa orang
tua yang tidak pernah putus. Ada pengorbanan keluarga yang mungkin tidak pernah
saudara hitung. Ada perjuangan para dosen yang telah membimbing, serta ada
ikhtiar panjang yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Oleh karena itu,
atas nama Senat STAI Al Utsmani, saya mengucapkan *selamat dan sukses kepada
seluruh wisudawan dan wisudawati.
Jadikanlah gelar akademik yang saudara peroleh
bukan sebagai simbol kebanggaan pribadi semata, melainkan sebagai amanah
intelektual dan tanggung jawab sosial. Sebab, ukuran keberhasilan seorang
sarjana tidak berhenti pada selembar ijazah, tidak pula semata-mata pada gelar
yang melekat di belakang namanya. Keberhasilan seorang sarjana akan semakin
bermakna ketika ilmu yang dimilikinya mampu menghadirkan kemanfaatan bagi
masyarakat. Sebagaimana nilai luhur yang diajarkan dalam tradisi pesantren:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Maka, pulanglah ke tengah masyarakat dengan
membawa ilmu, akhlak, integritas, dan semangat pengabdian.
Jadilah sarjana yang tidak hanya mampu menjawab
persoalan dirinya sendiri, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi atas
persoalan umat dan bangsa.
KEDUA:
MENJAGA AMANAH SEJARAH DAN MENYIAPKAN MASA DEPAN STAI AL UTSMANI
Hadirin
yang kami hormati,
Tanpa terasa, STAI Al Utsmani telah melewati
periode kepemimpinan pertamanya, yakni tahun 2020–2025, dan kini memasuki
periode kedua, tahun 2026–2030. Pada momentum Wisuda Ke-III ini, saya berbicara
untuk pertama kalinya menyampaikan pidato sebagai Ketua Senat pada periode
kedua kepemimpinan ini.
Bagi saya, ini bukan sekadar pergantian periode
dan bukan pula hanya persoalan administratif kelembagaan. Ini adalah momentum
untuk melakukan refleksi, memperkuat komitmen, dan meneguhkan arah masa depan
perguruan tinggi yang kita bangun bersama.
Kita patut bersyukur atas perjalanan yang telah
dilalui. Namun, rasa syukur tidak boleh membuat kita berhenti berbenah. Capaian
yang telah diraih harus menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh, bukan
alasan untuk berpuas diri.
Kita semua tentu sepakat bahwa salah satu
indikator keberhasilan seorang pemimpin adalah kemampuannya menyiapkan generasi
penerus yang mampu melanjutkan, memperbaiki, dan mengembangkan capaian yang
telah dibangun.
Kepemimpinan yang baik tidak hanya sibuk mempertahankan keberadaannya, tetapi juga mempersiapkan keberlanjutan organisasi. Karena itu, STAI Al Utsmani harus mulai menyiapkan regenerasi kepemimpinan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan. Kita harus membangun sistem yang tidak bergantung pada satu figur, melainkan bertumpu pada kekuatan institusi, kualitas sumber daya manusia, budaya akademik, dan tata kelola yang sehat.
Pemimpin berikutnya harus dipersiapkan agar
memiliki kapasitas yang lebih baik, wawasan yang lebih luas, integritas yang
kuat, serta kemampuan membawa kampus menghadapi tantangan zaman. Sebab, *warisan terbaik seorang pemimpin
bukanlah lamanya ia menduduki jabatan, melainkan kuatnya sistem yang ia
tinggalkan dan berkualitasnya generasi yang ia siapkan. Inilah cara kita
menghormati sejarah sekaligus mempersiapkan masa depan STAI Al Utsmani.
KETIGA:
ADA TIGA PILAR TATA KELOLA LEMBAGA.
Hadirin
yang berbahagia,
Dalam membangun organisasi pendidikan tinggi yang
sehat, profesional, dan berkelanjutan, ada tiga prinsip yang ingin saya
tegaskan pada kesempatan ini. yaitu : “Teknokrasi, Meritokrasi, dan
Transparansi”
Ketiganya
bukan sekadar istilah dalam manajemen organisasi. Ketiganya merupakan prinsip
penting untuk membangun kepercayaan, meningkatkan mutu, serta memastikan bahwa
setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kemajuan institusi.
1.
Teknokrasi: Kebijakan Berbasis Ilmu dan Data
Teknokrasi dalam tata kelola perguruan tinggi
berarti menempatkan ilmu pengetahuan, data, keahlian profesional, dan
pertimbangan objektif sebagai landasan dalam pengambilan keputusan. Kebijakan
akademik tidak boleh hanya didasarkan pada kebiasaan, kedekatan personal, atau
pertimbangan subjektif. Kita membutuhkan perencanaan yang matang, data yang
akurat, evaluasi yang terukur, serta keberanian untuk memperbaiki kebijakan
yang tidak lagi relevan. Mulai dari pengembangan program studi, peningkatan
kualitas dosen, pengelolaan keuangan, penguatan penelitian, hingga pengembangan
sarana dan prasarana, semuanya harus dibangun berdasarkan kebutuhan dan
prioritas yang jelas. Perguruan tinggi harus dikelola dengan nalar akademik,
bukan sekadar intuisi.
2.
Meritokrasi: Memberikan Amanah Berdasarkan Kompetensi
Meritokrasi adalah prinsip penempatan dan
pemberian tanggung jawab berdasarkan kompetensi, integritas, prestasi, serta
kapasitas seseorang.
Dalam
institusi pendidikan, setiap individu harus mendapatkan ruang untuk berkembang
sesuai dengan kemampuan dan kontribusinya Jabatan bukanlah hadiah atas
kedekatan. Amanah bukanlah fasilitas untuk kelompok tertentu. Dan kesempatan
berkembang tidak boleh dibatasi oleh hubungan personal. Kita perlu membangun tradisi kelembagaan yang
menghargai prestasi, memberikan ruang kepada kader-kader potensial, serta
menempatkan orang yang tepat pada tanggung jawab yang tepat. Dengan demikian,
regenerasi kepemimpinan tidak lahir dari persaingan yang tidak sehat, tetapi
dari proses pembinaan, pengembangan kapasitas, dan penghargaan terhadap
kompetensi.
3.
Transparansi: Membangun Kepercayaan melalui Keterbukaan
Transparansi berarti adanya keterbukaan informasi
dan kejelasan proses dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan program, serta
pertanggungjawaban kelembagaan. Dalam perguruan tinggi, transparansi bukan
hanya persoalan administrasi dan keuangan. Transparansi juga menyangkut
kebijakan akademik, distribusi tanggung jawab, pengembangan sumber daya
manusia, dan evaluasi kinerja. Keterbukaan harus berjalan seiring dengan
akuntabilitas, etika, serta ketentuan yang berlaku. Kita ingin membangun kampus
yang setiap kebijakannya dapat dijelaskan, setiap programnya dapat dievaluasi,
dan setiap amanahnya dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, kepercayaan tidak
cukup dibangun melalui kata-kata. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat melihat
kesesuaian antara komitmen, kebijakan, dan tindakan.
“Teknokrasi memastikan keputusan memiliki dasar
keilmuan. Meritokrasi memastikan amanah diberikan secara objektif. Transparansi
memastikan prosesnya terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan”,
Ketiganya
harus menjadi budaya bersama dalam membangun STAI Al Utsmani yang semakin maju.
KEEMPAT:
MENGAPRESIASI CAPAIAN, MEMPERKUAT MUTU AKADEMIK
Hadirin
yang kami muliakan,
Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang tumbuh dari
tradisi pesantren, STAI Al Utsmani memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga
tradisi keilmuan Islam sekaligus merespons perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kita tidak boleh mempertentangkan tradisi pesantren dengan kemajuan
akademik. Keduanya harus berjalan beriringan. Tradisi keilmuan pesantren
memberikan fondasi akhlak, adab, dan kedalaman spiritual. Sementara itu,
pendidikan tinggi memberikan ruang bagi pengembangan ilmu, penelitian, inovasi,
dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam perjalanan kelembagaan ini, kita patut
memberikan apresiasi atas berbagai capaian yang telah dirintis bersama.
Pertama,
dari aspek peningkatan kualitas sumber daya manusia dosen.
Dari 22 dosen yang telah memiliki NUPTK, sebanyak
12 dosen telah tersertifikasi atau sedang dalam proses menuju penerimaan
sertifikasi dosen, sesuai dengan tahapan masing-masing. Ini merupakan langkah penting dalam
meningkatkan profesionalisme dosen dan memperkuat kualitas pembelajaran. Selain
itu, terdapat lima dosen yang sedang menempuh pendidikan doktoral, dan satu
orang di antaranya telah menyelesaikan studi doktoralnya. Capaian ini harus
menjadi motivasi bagi seluruh dosen untuk terus meningkatkan kualifikasi
akademik dan kompetensi profesional.
Kedua,
dari aspek peningkatan akses pendidikan mahasiswa
Pada tahun 2026, terdapat 120 mahasiswa penerima
Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah melalui jalur aspirasi Fraksi PDI
Perjuangan dan Fraksi Golkar. Kita patut bersyukur atas hadirnya dukungan
tersebut, karena akses pendidikan tinggi merupakan bagian penting dari upaya
membangun keadilan sosial dan memperluas kesempatan bagi generasi muda. Namun,
komitmen kita tidak boleh berhenti pada penerimaan bantuan. Kita harus
memastikan bahwa mahasiswa memperoleh pendampingan akademik, mendapatkan
layanan pendidikan yang layak, serta memiliki kesempatan untuk menyelesaikan
studi dengan baik. Sebab, tugas perguruan tinggi bukan hanya membuka pintu
masuk pendidikan, tetapi juga mengawal mahasiswa hingga mampu meraih masa
depannya.
Ketiga,
dari aspek publikasi dan produktivitas ilmiah.
Kita patut mengapresiasi perkembangan
produktivitas akademik para dosen. Seluruh dosen telah memiliki publikasi pada
jurnal yang terindeks SINTA, dengan capaian yang terus dikembangkan, termasuk
publikasi pada SINTA 2 dan upaya menuju publikasi jurnal bereputasi
internasional, termasuk Scopus. Serta ada 4 Dosen yang meraih bantuan Pengabdian
Litapdimas Tahun 20206. Ini adalah modal penting untuk membangun budaya
akademik yang produktif. Akan tetapi, perlu kita tegaskan bahwa publikasi
ilmiah bukan sekadar mengejar angka dan indeksasi. Lebih dari itu, penelitian
harus mampu menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat, menjawab persoalan
masyarakat, memperkaya khazanah keilmuan Islam, serta memberikan kontribusi
bagi pembangunan bangsa.
Keempat,
dari aspek pengembangan kelembagaan.
Kita harus terus memperkuat kualitas program
studi, tata kelola, pelayanan akademik, jejaring kerja sama, serta kapasitas
kelembagaan. Capaian hari ini harus menjadi dasar untuk menetapkan target yang
lebih terukur pada masa mendatang. Kita tidak boleh cepat puas. Kita tidak
boleh berhenti hanya karena telah mencapai sesuatu. Justru semakin besar
capaian kita, semakin besar pula tanggung jawab untuk mempertahankan mutu dan
meningkatkan kualitas. Prestasi harus kita syukuri, kekurangan harus kita akui,
dan masa depan harus kita persiapkan dengan kerja nyata.*
KELIMA:
MENJAGA IDENTITAS PESANTREN, MEMBANGUN PERGURUAN TINGGI YANG BERDAYA SAING
Hadirin
yang kami hormati,
STAI Al Utsmani memiliki karakter yang khas. Kita
tumbuh dalam lingkungan pesantren yang menjunjung tinggi tradisi salafiyah dan
pengkajian kitab kuning. Karakter ini adalah identitas yang harus kita rawat. Namun,
merawat tradisi tidak berarti menutup diri dari perkembangan zaman. Sebaliknya,
tradisi keilmuan pesantren harus menjadi kekuatan untuk membangun perguruan
tinggi yang mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,
dan kebutuhan masyarakat. Kita ingin melahirkan sarjana yang kuat dalam
pemahaman keislaman, matang dalam akhlak, cakap dalam bidang keilmuan, serta
memiliki kepekaan terhadap persoalan kebangsaan dan kemanusiaan. Kita ingin
membangun kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan
pemikir, peneliti, pendidik, pemimpin, dan penggerak perubahan sosial. Oleh
karena itu, pengembangan STAI Al Utsmani harus dilakukan secara kolektif.
Yayasan, keluarga besar pesantren, pimpinan
kampus, senat, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan seluruh mitra
harus memiliki semangat yang sama dalam membangun institusi ini. Kita perlu
memperkuat sinergi, memperluas jejaring kerja sama, meningkatkan kualitas
penelitian dan pengabdian, serta membuka ruang kolaborasi dengan berbagai
perguruan tinggi di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Kampus
yang besar bukan hanya kampus yang memiliki gedung megah, tetapi kampus yang
memiliki tradisi keilmuan yang kuat, tata kelola yang sehat, sumber daya
manusia yang unggul, dan manfaat yang nyata bagi Masyarakat
KEENAM:
PESAN UNTUK PARA WISUDAWAN DAN WISUDAWATI
Para
wisudawan dan wisudawati yang saya banggakan,
Hari ini saudara-saudara meninggalkan ruang
kuliah, tetapi bukan berarti meninggalkan proses belajar. Justru setelah
wisuda, saudara akan memasuki ruang pembelajaran yang lebih luas, yaitu
kehidupan nyata di tengah masyarakat. Di sana, saudara akan menghadapi berbagai
tantangan. Ada persaingan, ada perubahan, ada ketidakpastian, dan ada persoalan
yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan teori yang saudara pelajari
di bangku kuliah. Karena itu, teruslah belajar.
Jangan merasa cukup dengan ilmu yang telah
diperoleh. Jangan berhenti membaca. Jangan berhenti berdiskusi. Jangan berhenti
memperbaiki diri. Jaga nama baik almamater dan pesantren yang telah membesarkan
saudara. Jadilah pribadi yang santun dalam perkataan, jujur dalam tindakan,
kuat dalam prinsip, dan terbuka terhadap perbedaan. Jangan pernah menggunakan
ilmu untuk merendahkan orang lain. Gunakanlah ilmu untuk membangun, mendidik,
dan memberikan kemanfaatan. Dan kepada para orang tua serta keluarga wisudawan,
kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya. Keberhasilan
putra-putri Bapak dan Ibu hari ini adalah buah dari doa, kesabaran, dan
pengorbanan yang tidak ternilai.
Semoga ilmu yang mereka peroleh menjadi amal
jariyah bagi keluarga dan membawa keberkahan dalam kehidupan.
KETUJUH:
HARAPAN DAN KOMITMEN BERSAMA
Hadirin
yang berbahagia,
Sebagai Ketua Senat, saya menyadari bahwa
membangun perguruan tinggi bukanlah pekerjaan satu orang, satu kelompok, atau
satu periode kepemimpinan. Ini adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan
kebersamaan, kedewasaan, dan komitmen jangka panjang. Perbedaan pandangan dalam
organisasi adalah sesuatu yang wajar. Bahkan, dalam kehidupan akademik,
perbedaan merupakan bagian dari proses menemukan gagasan dan memperbaiki
kebijakan. Namun, perbedaan harus dikelola dengan etika, dialog, dan orientasi
pada kepentingan institusi. Kita harus menghindari cara berpikir yang hanya
mengedepankan suka atau tidak suka, kedekatan personal, maupun kepentingan
sesaat. Yang harus kita utamakan adalah kepentingan pendidikan, kemajuan
kampus, dan masa depan generasi yang sedang kita didik. Mari kita bangun STAI
Al Utsmani sebagai rumah besar keilmuan, tempat setiap dosen dapat berkembang,
setiap mahasiswa memperoleh kesempatan belajar, setiap gagasan akademik
mendapatkan ruang, dan setiap amanah dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Mari
kita jadikan periode kedua ini sebagai momentum memperkuat fondasi kelembagaan,
memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta
mempersiapkan keberlanjutan kepemimpinan. Semoga ikhtiar kita hari ini menjadi
warisan yang bermanfaat bagi generasi STAI Al Utsmani pada masa mendatang.
PENUTUP
Para
hadirin yang kami muliakan,
Pada
akhirnya, izinkan saya menyampaikan satu pesan untuk kita semua:
Jangan pernah merasa cukup dengan keberhasilan
hari ini, karena masa depan menuntut kita untuk terus bertumbuh. Jangan pernah
merasa paling berjasa dalam membangun institusi, karena setiap kemajuan lahir
dari kerja bersama. Dan jangan pernah melupakan bahwa pendidikan adalah amanah
yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga
kepada Allah SWT.
Kepada para wisudawan dan wisudawati, selamat
menapaki babak baru kehidupan. Bawalah nama baik STAI Al Utsmani, rawatlah
nilai-nilai pesantren, dan jadilah bagian dari generasi yang memberikan manfaat
bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk,
kekuatan, dan keberkahan kepada kita semua dalam melanjutkan perjuangan
membangun pendidikan yang bermutu dan berkeadaban.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Demikian
yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
©Tim IT STAI Al Utsmani 2024

