
Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso

Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso
Artikel
HUMAS, Jember, Awal Maret 2026 — Komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan tridarma tidak cukup dibuktikan melalui aktivitas akademik di ruang kelas. Ia harus nyata di tengah masyarakat. Komitmen itulah yang kembali diteguhkan oleh LPPM STAI Al Utsmani melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis Participatory Action Research (PAR) di empat desa wilayah Kabupaten Jember pada awal Ramadhan 1447 H.
Berdasarkan dokumentasi lapangan, KKN tahun ini tersebar di beberapa titik strategis Kecamatan Ledokombo, di antaranya:
- Posko KKN 7 – Desa Karang Paiton, Kecamatan Ledokombo
- Posko KKN 8 - Desa Sukogidri - Ledokombo
- Posko KKN 9 – Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo
- Posko KKN 10 – Desa Sumberanget, Kecamatan Ledokombo
Setiap posko memasang banner resmi bertuliskan “Kuliah Kerja Nyata Berbasis Participatory Action Research”, menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi berbasis riset partisipatif yang melibatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan.
*Pimpinan Turun Langsung: Evaluasi Berbasis Lapangan*
Ketua STAI Al Utsmani, Ibu Dawimatus Sholihah, melakukan kunjungan langsung ke posko-posko KKN tersebut. Kehadiran beliau tidak bersifat simbolik, melainkan bagian dari mekanisme evaluasi dan monitoring program.
Dalam dialog bersama mahasiswa di Posko 7,8, 9, dan 10, beliau menekankan pentingnya konsistensi antara proposal program kerja (proker) dengan implementasi nyata di lapangan. Evaluasi dilakukan secara terbuka dan dialogis, melibatkan mahasiswa serta perangkat desa.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa LPPM tidak hanya mengirim mahasiswa, tetapi juga memastikan adanya pendampingan institusional yang serius.
*KKN Berbasis PAR: Mahasiswa sebagai Agen Perubahan*
Pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang diterapkan menuntut mahasiswa untuk:
1. Melakukan pemetaan sosial desa.
2. Mengidentifikasi problem aktual masyarakat.
3. Menyusun program berbasis kebutuhan riil.
4. Melibatkan warga dalam setiap tahapan kegiatan.
Dalam foto dokumentasi, tampak mahasiswa mengenakan atribut resmi KKN 2026 dengan penuh semangat dan kekompakan. Pose simbolik kepalan tangan yang mereka tampilkan mencerminkan komitmen kolektif: hadir bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi membawa misi pengabdian.
*Ramadhan sebagai Ruang Transformasi Sosial*
Momentum Ramadhan 1447 H menjadi nilai tambah pelaksanaan KKN tahun ini. Program-program yang dijalankan di antaranya:
*Penguatan Literasi Keagamaan melalui pendampingan TPA/TPQ*
Pesantren Ramadhan Tematik dengan kajian fiqh ibadah praktis.
Gerakan Masjid Ramah Anak dan Remaja.
Edukasi Zakat, Infak, dan Sedekah berbasis pemberdayaan.
Beberapa desa mulai merasakan dampak konkrit, seperti meningkatnya partisipasi anak-anak dalam kegiatan keagamaan dan tumbuhnya kesadaran administrasi masjid yang lebih tertib.
Sinergi Kampus dan Desa
Kehadiran mahasiswa KKN di Desa Karang Paiton, Ledokombo,Sukogidri dan Sumberanget menunjukkan pola kolaboratif antara kampus dan pemerintah desa. Perangkat desa dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi.
Model ini menegaskan bahwa KKN bukan agenda temporer, melainkan bagian dari sinergi jangka panjang antara kampus dan desa dalam penguatan sumber daya manusia berbasis nilai keislaman.
*Konsistensi sebagai Cermin Integritas Akademik*
Tema besar “Menakar Konsistensi” menemukan relevansinya di sini. Konsistensi berarti:
Selarasnya visi-misi kampus dengan praktik pengabdian.
Sinkronnya dokumen akademik dengan realitas sosial.
Hadirnya pimpinan dalam memastikan mutu pelaksanaan program.
Kunjungan langsung Ketua kampus ke Posko KKN 7, 8, 9, dan 10 menjadi pesan kuat bahwa pengabdian adalah bagian dari kultur akademik, bukan sekadar administrasi tridarma.
*Refleksi*
KKN berbasis PAR di Kecamatan Ledokombo ini menjadi bukti bahwa STAI Al Utsmani berupaya menjaga konsistensi antara idealisme akademik dan realitas sosial. Mahasiswa belajar tentang empati, kepemimpinan, manajemen program, dan komunikasi sosial. Masyarakat pun memperoleh manfaat nyata.
Ramadhan menjadi bukan hanya bulan ibadah personal, tetapi juga momentum transformasi sosial.
Jika konsistensi ini terus dijaga, maka KKN tidak lagi sekadar rutinitas tahunan, melainkan gerakan intelektual berkelanjutan—menautkan ilmu, iman, dan amal dalam satu langkah peradaban.
©Tim IT STAI Al Utsmani 2024

