
Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso

Jl. KH. Utsman Dusun Beddian Rt. 29 Rw. 06 Desa Jambesari Kecamatan Jambesari Darus Sholah 68263 Kabupaten Bondowoso
Artikel
HUMAS, Banyuwangi, Universitas
Islam Cordoba sukses menyelenggarakan kegiatan International Lecture
bertema “Empowering Sustainable Futures: Multidisciplinary Approaches in
Education, Social Responsibility, and Human Development”. Kegiatan ini bertempat
di Ruang Rapat Universitas Islam Cordoba. Jumat, (05/06/2026).
Kegiatan akademik berskala
internasional ini menghadirkan berbagai akademisi dan praktisi dari lintas
disiplin ilmu yang berbagi wawasan, pengalaman, serta gagasan inovatif dalam
membangun masa depan berkelanjutan melalui pendekatan multidisipliner, khususnya
dalam bidang pendidikan, tanggung jawab sosial, dan pengembangan manusia.
Salah satu peserta yang turut
berkontribusi sebagai presenter adalah Heridianto, dosen STAI Al-Utsmani
Bondowoso. Dalam kesempatan tersebut, ia mempresentasikan paper berjudul “Makna
Simbolis dan Identitas Budaya Tradisi Air Batuk Bondowoso dalam Pengobatan
Tradisional”. Paper ini mengangkat kajian mendalam tentang praktik
pengobatan tradisional berbasis kearifan lokal yang masih bertahan di tengah
arus modernisasi.
Dalam paparannya, Heridianto
menjelaskan bahwa tradisi Air Batuk yang berkembang di Desa Mengok,
Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso, bukan sekadar praktik pengobatan
alternatif, tetapi merupakan sistem budaya yang sarat makna simbolik. Tradisi
ini melibatkan serangkaian tindakan seperti memasukkan koin ke dalam sumber
air, mengambil air, serta membaca niat dan doa sebagai bagian dari proses
penyembuhan.
Ia menegaskan bahwa air dalam
tradisi tersebut dimaknai sebagai simbol kehidupan, kesucian, dan media
spiritual. Sementara itu, koin dipahami sebagai simbol sedekah dan keikhlasan,
serta bentuk penghormatan terhadap alam. Adapun niat dan doa berfungsi sebagai
penguat keyakinan sekaligus penghubung antara manusia dengan kekuatan
transendental.
Lebih lanjut, Heridianto juga
mengungkapkan bahwa praktik Air Batuk mencerminkan pola medical
pluralism, yaitu perpaduan antara pengobatan modern dan tradisional.
Masyarakat tidak meninggalkan layanan medis formal, tetapi menjadikan tradisi
ini sebagai pelengkap, terutama ketika pengobatan medis belum memberikan hasil
yang diharapkan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sistem kesehatan masyarakat
tidak dapat dipahami hanya dari perspektif biomedis, melainkan perlu
mempertimbangkan dimensi sosial, budaya, dan spiritual.
Selain sebagai sarana
penyembuhan, tradisi ini juga memiliki fungsi sosial yang signifikan. Lokasi
pengambilan air berkembang menjadi ruang interaksi sosial di mana masyarakat
saling berbagi pengalaman, harapan, dan dukungan emosional. Hal ini memperkuat
solidaritas sosial sekaligus membangun rasa kebersamaan dalam komunitas.
Dalam konteks yang lebih luas,
Heridianto menekankan bahwa tradisi Air Batuk berperan penting dalam
mempertahankan identitas budaya masyarakat lokal. Melalui praktik yang
diwariskan secara turun-temurun, masyarakat tidak hanya menjaga metode
pengobatan tradisional, tetapi juga melestarikan nilai-nilai seperti
keikhlasan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam.
Namun demikian, ia juga
mengingatkan adanya tantangan modernisasi yang berpotensi menggeser keberadaan
tradisi tersebut, terutama di kalangan generasi muda yang lebih terpapar pada
paradigma medis modern. Oleh karena itu, diperlukan upaya dokumentasi, pelestarian,
serta integrasi dengan pendekatan kesehatan modern agar tradisi ini tetap
relevan dan tidak punah.
Kegiatan International Lecture
ini juga menghadirkan reviewer internasional, yaitu Prof. Hal Herjanto, Ph.D.
dari Marymount University, USA. Dalam sesi diskusi, beliau memberikan apresiasi
terhadap kajian yang mengangkat kearifan lokal sebagai bagian dari pembangunan
berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam
memahami fenomena sosial, termasuk integrasi antara budaya, kesehatan, dan
pembangunan manusia.
Menurutnya, penelitian seperti
yang dipresentasikan Heridianto memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam
konteks global, terutama dalam studi tentang indigenous knowledge dan sustainable
community development. Ia juga mendorong agar penelitian tersebut dapat
dipublikasikan dalam jurnal internasional agar memberikan kontribusi lebih luas
bagi dunia akademik.
Kegiatan ini berlangsung secara
interaktif dengan sesi tanya jawab yang memperkaya perspektif peserta. Para
peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terutama terhadap isu-isu yang berkaitan
dengan integrasi nilai budaya dalam pembangunan berkelanjutan.
Dengan terselenggaranya kegiatan
ini, Universitas Islam Cordoba kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong
kolaborasi akademik internasional serta pengembangan ilmu pengetahuan yang
relevan dengan tantangan global. Kehadiran akademisi seperti Heridianto menjadi
bukti bahwa kontribusi dari daerah juga memiliki nilai strategis dalam
percaturan akademik internasional. (*)
©Tim IT STAI Al Utsmani 2024

